
Semakin bertambahnya populasi manusia di muka bumi ini semakin meningkat pula kebutuhan akan energi. Listrik merupakan bentuk energi yang dapat disimpan, ditransmisikan, dan diubah bentuk ke berbagai macam bentuk energi lainnya yang dapat kita manfaatkan sehari-hari. Untuk itulah manusia melakukan berbagai upaya untuk dapat menghasilkan bentuk energi yang satu ini. Manusia menemukan berbagai cara dari membendung air untuk memanfaatkan energi potensialnya, membuat mesin berbahan bakar fosil, memenfaatkan panas bumi, menggunakan tenaga surya, hingga memanfaatkan energi nuclear. Semua cara tersebut dilakukan untuk mendapatkan energi listrik yang murah, ramah lingkungan, dan dapat menyuplai selurh kebutuhan manusia akan energi ini.
Selama ini yang dianggap sebagai penghasil energi listrik yang berbiaya murah, ramah lingkungan, dan cukup menghasilkan energi untuk kebutuhan manusia adalah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Panel surya merupakan pembangkit yang juga bersih, namun biaya investasinya dianggap masih belum terjangkau khususnya bagi negara berkembang, sementara pemanfaatan energi panas bumi bukan merupakan metode yang populer. Energi nuklir menjanjikan jumlah energi yang sangat besar dan efisien, namun masyarakat ‘lagi-lagi’ khususnya di negara berkembang masih merasa ketakutan untuk menggunakan jenis pembangkit yang satu ini. Sehingga Pembangkit yang lazim digunakan di negara berkembang adalah PLTA yang didapatkan dengan membendung sungai untuk mendapatkan energi potensial yang kemudian diubah menjadi energi listrik melalui turbin generator.
Pembangunan bendungan sebagai PLTA umumnya adalah suatu proyek besar Pemerintah, yang memerlukan penanganan menyeluruh dari aspek engineering, mulai dari analisis hidrologi, topografi, geologi, struktur bendung, dan aspek lainnya yang harus dikalkulasikan dengan teliti dan seksama. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan juga merupakan faktor penting yang harus masuk pertimbangan. Berubahnya lingkungan darat menjaadi perairan, perubahan habitat flora dan fauna, tidak dapat dianggap remeh untuk dimasukkan kedalam perhatian, apalagi terdapat populasi manusia yang terkena dampak pembangunan bendungan.
Dalam kasus pembangunan bendungan berkapasitas kecil, mungkin dampakya kurang begitu signifikan terhadap kerusakan lingkungan, namun untuk bendungan skala besar seperti Three Gorge Dam atau Bendungan Sanxia di China, dampaknya sangat bepengaruh terhadap lingkungan. Mulai dari pemindahan penduduk yang bermukim di area genangan dengan jumlah lebih dari 1 juta jiwa, berubahnya lingkungan seluas 100 ribu hektar menjadi genangan air, sampai masalah ekologi seperti terhentinya pasokan lumpur aluvial ke hilir sungai, juga ancaman tersapunya kota-kota besar seperti Shanghai dengan penduduk lebih dari 18 juta jiwa, jika bendungan ini colapse.
Yang perlu disoroti dalam tulisan ini adalah dampak bendungan tersebut terhadap lingkungan yang dampaknya akan sangat merugikan di kemudian hari , seperti yang terjadi di Three Gorge Dam, hilangya areal hutan seluas lebih dari 50 ribu hektar karena tergenang air, terhentinya pasokan sedimen ke bagian hilir. Merupakan sebuah ironi ketika penggunaan bendungan sebagai pembangkit listrik alih-alih menggunakan mesin berbahan bakar fosil, untuk mengurangi emisi gas buang, tetapi dalam proses pembuatannya menghilangkan areal hutan yang sangat luas. Bukan hanya itu, pohon-pohon yang tergenang oleh air akan membusuk, ter-dekomposisi membentuk gas metana yang terlepas ke atmosphere sebagai gas rumah kaca yang akan menambah laju pemanasan global.
Sebelum adanya Bendungan Three Gorge, Sungai Yang Tse yang mengalir membelah China membawa endapan aluvial seumlah 400 ton/tahun, namun setelah sungai itu terbendung kini sedimen yang terbawa hanya mencapai 160 ton/tahun. Berkurangnya pasokan endapan itu menyebabkan hilangnya daratan seluas 4 km persegi di bagian muara sungai. Berkurangya pasokan tanah subur ini juga mengakibatkan menurunnya produktivitas tanah pertanian di hilir sungai, lagi-lagi menyebabkan deforestation.
Bisa dibayangkan bila puluhan negara berkembang di dunia mengikuti langkah China dalam memenuhi kebuthan energinya ini, maka akan semakin signifikan dampak yang ditimbulkan oleh pembangunan bendungan skala besar terhadap kerusakan lingkungan, terutama terhadap pemanasan global. Namun apa boleh dikata, ketika kebutuhan begitu mendesak, maka segala cara yang memungkinkan akan dilakukan. Mengenai dampak, maka akan dicari jalan keluarnya lagi di kemudian hari.
Ketika kebutuhan energi negara seperti China, yang pertumbuhan ekonominya sedang melesat, tidak segera dipenuhi, maka akan menimbulkan keruntuhan ekonomi secara mendadak, yang justru mengakibatkan kerugian terhadap manusia yang lebih besar dan langsung terasa dampaknya. Ini merupakan suatu dilema yang harus kita cari jalan keluarnya secara bersama. Lalu, apa solusi energi dunia yang semakin mendesak dewasa ini? Apakah nuclear? Panas Bumi kah? Atau Tenaga Surya? Tentu masing-masing punya kekurangan dan kelebihan. Tergantung pada komitmen kita untuk menjaga bumi yang kita tinggali ini. “Heal the World, Make it a better place” kata Michael Jackson. Pepatah mengatakan “We do not inherit earth from our ancestor But we lend it from our children.”