
Marhaban Ya Ramadhan
M. Quraish Shihab
Lentera Hati
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata marhaban diartikan dengan “kata seru untuk me-nyambut atau menghormati tamu (yang berarti sela-mat datang)”. Ini sama dengan ahlan wa sahlan yang juga dalam kamus ersebut diartikan dengan “sela-mat datang”. Para ulama menggunakan kata marhaban untuk menyambut ramadhan dan bukan-nya ahlan wa sahlan, karena ada perbedaan dalam artinya.
Ahlan terambil dari kata ahl yang berarti “keluarga”,sedangkan sahlan dari kata sahl yang berarti “mudah” (sahl juga berarti “dataran rendah” karena mudah dilalui oleh para pejalan kaki, tidak seperti tanjakan tinggi). Ahlan wa sahlan adalah ung-kapan selamat datang yang dicelahnya terdapat kali-mat tersirat yaitu “(Anda berada di tengah) keluarga dan (melangkahkan kaki di) dataran rendah yang mudah.”
Marhaban terambil dari kata rahb yang berarti “luas atau lapang”, sehingga marhaban menggam-barkan bahwa
tamu yang datang disambut dan di-terima dengan dada lapang, penuh kegembiraan, serta, dipersiapkan baginya. ruangan yar’g luas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya. Dari kata ini, terbentuk kata rahbah yang, antara lain, diartikan sebagai ruangan luas untuk mobil, guna memperoleh perbaikan atau kebutuhan bagi kelanjutan perja-lanannya. Marhaban Ya Ramadhan, “Selamat Datang Ramadhan”, berarti “kami menyambutmu dengan penuh kegembiraan dan kami persiapkan untukmu tempat y~ng luas agar engkau bebas melakukan apa saja, yang berkaitan dengan upaya mengasah dan mengasuh jiwa kami.”
Marhaban, kami bergembira dengan kedatang-anmu, karena seperti sabda Rasul saw.: “Seandainya umatku mengetahui (semua) keistimewaan Ramadhan, niscaya mereka mengharap agar semua bulan menjadi Ramadhan. ” Di bulan Ramadhan ada malam qadr, malam penentuan, yang akan menemui setiap orang yang mempersiapkan diri sejak dini untuk menyam-butnya. Kebaikan dan kemuliaan yang dihadirkan oleh Lailat
Al-Qadr tidak mungkin akan diraih kecuali oleh orang-orang tertentu saja.
Tamu agung yang berkunjung ke satu tempat, tidak akan datang menemui setiap orang di lokasi tersebut walaupun setiap orang di sana mendam-bakannya. Demikianjuga dengan Lailat Al-Qadr. Itu sebabnya bulan Ramadhan menjadi bulan keha-dirannya, karena bulan ini adalah bulan penyucian jiwa, Dan itu pula sebabnya ia diduga oleh Rasul datang pada sepuluh malam terakhir bulan Rama-dhan, karena ketika itu diharapkan jiwa. manusia yang berpuasa selama 20 hari sebelumnya. telah mencapai satu tingkat kesadaran dan kesucian. Apa bila jiwa telah siap, kesadaran telah mulai bersemi, dan Lailat Al-Qadr datang menemui seseorang, maka malam
kehadirannya menjadi saat qadr dalam a.rti saat “menentukan” bagi perjalanan sejara.h hidup-nya di masa-masa mendatang. Saat itu, bagi yang bersangkutan, adalah saat “titik tolak” guna meraih kemuliaan dan kejayaan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Sejak saat itu juga malaikat akan turun guna menyertai dan membimbingnya menuju ke-baikan sampai terbitnya. fajar kehidupannya di hari kemudian nanti (lihat QS 97: 4-5).
Marhaban Ya Ramadhan, kami menyambutmu dan siap untuk melakukan apa saja demi mem-peroleh kemulian dan kebaikan itu.
Tahukah Anda, apa yang harus dipersiapkan? Jiwa yang suci dan tekad membaja untuk memerangi nafsu, menghidupkan malamnya dengan shalat dan tadarus, dan siangnya dengan ibadah kepada Allah melalui pengabdian kepada negara dan bangsa.
Bagus sekali tulisannya, mas.
Sangat bermanfaat. Gambar ilustrasinya juga oke, omong-omomg dapat dari mana?
Kalo di tempat kami mencari pahala Lailatul Qodar dilakukan dengan pengajian semalam suntuk di Masjid selama 10 hari terakhir Ramadhan. Acaranya, pengajian Al Quran dan Al Hadist, makna dan keterangan, dilanjutkan dengan membaca Qur’an, sholat dan zikir sampai subuh. Makan sahur juga dilaksanakan di Masjid.
Sudah waktunya kita meningkatkan amalan kita masing-masing dan meninggalkan debat yang tidak ada gunanya.